AKHIR-AKHIR ini kita dihangatkan dengan istilah baru cyber province. Ada Jogja Cyber Province, NAD Cyber Province, dan Jabar Cyber Province. Maksudnya sudah kita sama-sama tahu, yakni provinsi yang memanfaatkan teknologi cybernetika (tematika, internet dan segenap turunannya) sebagai tulang punggung aktivitas kehidupan. Bagaimana dengan Makassar….???
Pada 28 September 2008, Pemprov Jabar meresmikan program Jabar Cyber Province. Beberapa bulan sebelumnya, Selasa (15/4), Pemprov Jawa Barat menandatangani MoU dengan PT Telkom perihal pengembangan cyber province ini, sebagai bagian dari komitmen PT Telkom untuk mendukung E-Government dan Jabar Cyber Province yang ditargetkan dapat terealisasi tahun 2012.
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jabar tentu saja sangat menyambut positif upaya itu. Bahkan, Kadin secara proaktif berperan serta dalam upaya ini. Berbekal pengalaman pemanfaatan sebagian dari infrastruktur Jabar Cyber Space itu, Kadin optimistis terwujudnya Jabar Cyber Province bukan hal yang sulit. Ada sejumlah alasan yang membuat Kadin optimistis dan berharap penuh pada cyber province ini bahkan mungkin sampai ke tingkat desa seluruh Jawa Barat.
Pertama, kondisi alam menjadi kendala bagi aktivitas komunikasi dan informasi konvensional. Kedua, teknologi telekomunikasi tumbuh semakin canggih sekaligus semakin murah. Keharusan melakukan pertemuan fisikal semakin menurun. Ketiga, implikasi logis dari substitusi pertemuan physical ke pertemuan virtual telah menurunkan biaya dan waktu yang digunakan. Keempat, adopsi ICT pada gilirannya telah memicu tumbuh dan berkembangnya bisnis-bisnis baru yang berbasis pada industri kreatif.
ICT-Information Communication Technology hanyalah sebagai salah satu bagian dari sistem informasi. ICT hanyalah sebagai landasan infrastruktur teknologi yang meliputi hardware, software dan jaringan komunikasi untuk mengambil, mengumpulkan, memproses, dan memberikan output berbentuk content digital. Lebih lanjutnya informasi tersebut didesiminasikan melalui jaringan transmisi data dengan menggunakan berbagai macam jenis peralatan komunikasi (jaringan komputer) baik untuk kebutuhan internal (Intranet) maupun untuk kebutuhan publikasi umum (Internet).
Berdasarkan pertimbangan di atas, maka dari sudut pandang dunia usaha pilihan Jawa Barat menjadi cyber province merupakan cinditio sine qua non, kondisi tak terelakkan jika ingin maju pada masa yang akan datang. Namun dalam hal ini, perlu dipahami bahwa cyber province hendaknya jangan diartikan sebatas praktik cybernetika di kalangan pemerintahan semata atau biasa dikenal sebagai e-government, tetapi juga berarti praktik cybernetika di kalangan bisnis (e-business), kalangan pendidikan (e-learning), masyarakat (e-community), serta praktik-praktik e- lainnya secara terpadu dan sinergis.
Kalau hanya dipahami sebagai praktik e-government semata, yang terjadi adalah eksklusivitas dan elitisme pemanfaatan ICT sebatas elite birokrasi yang ujung-ujungnya adalah pemborosan anggaran. Oleh karena itu, Jawa Barat bukan saja memerlukan sebuah cetak biru bagaimana membuat Jawa Barat sebagai cyber province, melainkan juga kesatupaduan dan kesepakatan seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) di Jawa Barat untuk bersama-sama bergerak menuju era informasi dengan menjadikan ICT sebagai wahana utamanya.
Ada beberapa faktor yang hendaknya diperhatikan bila Jabar ingin tumbuh menjadi cyber province. Pertama, infrastruktur ICT mau tidak mau harus dibangun secara menyeluruh di Jawa Barat. Kedua, pengembangan budaya telematika merupakan agenda penting yang sangat menentukan keberhasilan praktik cyber province ini. Kesediaan seluruh pemangku kepentingan menjadikan ICT sebagai perangkat utama beraktivitas sangat ditentukan proses pembelajaran, pembentukan perilaku, dan regulasi yang memaksa mereka menjadi bagian dari aktivitas berbasis ICT ini.
Ketiga, keberhasilan cyber province akan sangat ditentukan oleh manfaat yang diterima para pemangku kepentingan. Kegagalan adopsi teknologi biasanya terletak pada nilai manfaat yang tidak berhasil diterima para pengadopsi.
Keempat, yakinlah bahwa secanggih apa pun cyber province tetap membutuhkan basis physical. Karena barang-barang tidak bisa dikirim melalui dunia maya, hanya informasinya yang bisa dilalulintaskan. Oleh karena itu, perhatian terhadap dukungan physical dari cyber province tetap tak boleh dikendurkan. Memang hanya dengan pengelolaan yang cermat dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan di Jawa Barat, manfaat tersebut bisa kita raih sebesar mungkin.
Sejarah Cybernetika
Telah kita pahami bersama bahwa perkembangan dunia saat ini memasuki apa yang disebut era revolusi digital dan dikenal sebagai gelombang keempat yang berdampak merubah masyarakat industri menjadi masyarakat informasi. Oleh karena itu diperkirakan pada masa datang kehidupan manusia akan banyak ditandai dengan munculnya fenomena information superhighway, semakin melubernya information appliance, tergunakannya digital and virtual libraries dalam proses pendidikan dan pengajaran, dan terwujudnya tele-working yang mengurangi pergerakan manusia ke perkantoran.
Teknologi digital telah mendorong berkembangnya teknologi informasi/cybernetika yang merupakan perpaduan antara teknologi perangkat keras dan teknologi perangkat lunak dengan cakupan pemanfaatannya yang sangat luas dalam berbagai kehidupan manusia. Kemampuannya dalam melakukan proses pengambilan keputusan yang sangat rumit dan berskala besar yang tidak mungkin dilakukan secara manual oleh manusia, benar-benar telah menyebabkan revolusi budaya manusia dewasa ini. Adalah suatu kenyataan bahwa teknologi informasi inilah yang telah mengantarkan dunia masuk ke dalam era globalisasi dan ekonomi pasar bebas seperti yang sekarang kita alami.
Hikmah Perang Dingin
Kehadiran eksistensial internet ke muka bumi boleh dibilang merupakan salah satu hikmah perang dingin. Lintas diakhronis menunjukkan dengan sangat jelas, internet lahir dari tangan-tangan teknolog NASA, yang merasa terpukul oleh akselerasi perkembangan teknologi luar angkasa Rusia (dulu Uni Soviet).
Gambaran hal tersebut barangkali dapat kita lacak ke sebuah konferensi pers pada tanggal 9 Oktober 1957. "Rusia telah meluncurkan sebuah satelit bumi. Mereka juga mengklaim telah berhasil dalam uji coba menembakkan rudal balistik inter-kontinental, dan tidak satu pun dari kedua ini dilakukan oleh negeri ini. Saya bertanya kepada Anda, apa yang akan kita lakukan menghadapi perkembangan ini?" ujar Merriman Smith dari UPI, wartawan legendaris, orang pertama yang melaporkan kematian Presiden John F Kennedy ke seluruh dunia.
Mendapat pertanyaan ini, Presiden AS Dwight D Eisenhower (Ike) tercenung, sebelum menjawab dalam bahasa diplomatis. Ceritanya mungkin akan lain bila ilmuwan-ilmuwan AS bersikap open minded humility terhadap apa yang dipreposisikan Nobert Wiener, seorang matematikawan, pada 1948. Saat itu, Wiener berasumsi bahwa sekumpulan mesin yang saling terkoneksi memiliki tingkat komunikasi seperti halnya makhluk hidup.
Dikatakan seperti makhluk hidup, sebab mereka terhubungkan sejumlah jaringan elektronik dan mekanik yang berfungsi interaktif sebagaimana urat syaraf. Wiener mendapat banyak ejekan. Beberapa diantaranya malah menuding Wiener terlalu berlebihan dalam menempatkan fungsi alat elektronik dan mekanik. "Apakah Wiener ingin menjadi Tuhan?" tanya retoris dari seorang di antara mereka, sebagaimana dikutip praktisi komunikasi Priyambodo RH.
Untuk mengenal secara lengkap mengenai cybernetics Anda harus lebih dahulu mengenal Wiener (1894-1964), seorang ahli matematika Amerika yang mempopulerkan istilah Cybernetics, ialah yang menemukan kenyataan bahwa ada kesamaan antara komunikasi dan kontrol dalam otak manusia denngan fungsi-fungsi di dalam mesin.
Ia dilahirkan di Columbia, anak seorang profesor, bisa membaca dan menulis pada usia 3 tahun. Dan mendapatkan gelar doctor dari universitas Harvard sebelum usia 19 tahun.
Teori Wiener tentang cybernetika sempat menghilang untuk waktu yang cukup lama. Banyak pakar komunikasi enggan memahami paham tersebut, atau, bisa jadi mereka justru tidak pernah mendengar dan tidak mengetahui tentang sibernetika.
Ironisnya, pendapat Wiener justru menyita perhatian sejumlah pakar di Rusia, yang antara lain dipelopori Vladimir Talmy. Ia mengemukakan pendapat-pendapat kritisnya dalam Cybernetics within Us, sebuah buku yang diterjemahkan Yelena Saparina.
Talmy berpendapat, cybernetika setidak – tidaknya memerlukan pemahaman dari lima sudut keilmuan, yaitu matematika, logika (filsafat), biologi, komunikasi dan sistem pengawasan otomatis (fisika). Para peneliti lintas disiplin Rusia mengelaborasikan pendapat Talmy ke dalam riset-riset strategis tentang aspek komunikasi "berurat syaraf". Puncak riset mereka termanifestasikan dalam konsep dasar Sputnik, satelit telekomunikasi pertama Rusia pada 1957 (dan dunia, tentu).
Cybernetics is the science of control.
Cybernetics adalah suatu ilmu pengetahuan mengenai control dan Komputerisasi adalah hasil pengembangan dari cybernetics. Dengan komputer Anda bisa menerbangkan misil ke bulan, dan dengan komputer anda bisa mengerjakan hal-hal besar dalam beberapa menit atau jam yang apabila dilakukan secara biasa oleh sekumpulan laki-laki akan memakan waktu bertahun-tahun.
Tetapi sekalipun demikian adalah suatu kenyataan bahwa manusialah yang menciptakan komputer. Dan konstruksi serta isi otak manusia jauh lebih dasyat dari jenis komputer paling canggih yang bisa diciptakan oleh manusia. Otak manusia memang bisa berkembang hebat dan dapat digunakan dengan hebat sekali apabila orang tahu menggunakannya. Dan CGI (Cybernetics Group Institut) telah menyiapkan program tersebut untuk Anda.
Cybernetic telah membawa bukti-bukti bahwa BAWAH SADAR kita bukanlah merupakan suatu pikiran, melainkan suatu mekanisme, suatu alat mencapai gol bawah sadar atau mesin pencapai gol otomatis.
Jadi manakala orang berbicara tentang kombinasi yang telah terjadi ini, yang hanya dalam rentang masa hidup kita saja, yakni tentang kanalisasi rahasia terdalam kebendaan, sebutlah itu energi nuklir, dan mentransformasikan kebendaan itu menjadi energi dan rekayasa bio, kami merasa bahwa kita dihadapkan dengan revolusi yang teramat penting. Sementara revolusi ini berada dalam genggaman modal dan negara, maka dampaknya bagi masyarakat bisa sangat menghancurkan. kami tidak bisa meramalkan bahwa manfaatnya bagi kemanusiaan atau ekologi planet kita sebanding dengan fungsinya untuk dominasi dan hierarki, sebagaimana lazimnya semua inovasi teknologi selama ini.
Jangkauan revolusi ini tercermin dalam banyak hal. Pertama-tama, cybernetik mengancam merusak status dari hampir semua jenis kelas pekerja non-profesional, baik pekerja kerah putih atau pun biru. Saya kira jika cybernasi ini diperkenalkan, maka cuma soal waktu saja sampai ia menggusur jutaan orang. Kelas pekerja industrial akan merosot sedikitnya di pusat-pusat utama Eropa-Amerika, dalam semua kemungkinannya, hingga ke tingkatan yang tidak akan lebih besar angkanya dari jumlah petani sekarang yang sekitar 4 juta orang di Amerika Serikat.
Rabu, 17 Juni 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar